Masuk

Tradisi Membangunkan Sahur Di Indonesia

Tradisi Membangunkan Sahur Di Indonesia

Tak terasa sebentar lagi kita akan kembali berjumpa dengan bulan Ramadhan. Ini adalah bulan penuh hikmah, dimana setiap hal yang dilakukan oleh seseorang yang sedang berpuasa semata demi meraih keridho’an Allah SWT akan diganjar dengan kebaikan dan pahala yang berlipat ganda. Karenanya, segala hal haruslah dijalankan dengan penuh keikhlasan dan semata-mata niat beribadah.

Pada setiap Ramadhan pula, ada keindahan budaya yang bisa kita saksikan rutin setiap hari menjelang subuh sepanjang masa puasa. Tradisi ini sudah melekat di masyarakat, ini adalah tradisi membangunkan sahur yang secara unik dilakukan oleh kelompok anak-anak, pemuda maupun bapak-bapak.

Saking uniknya, beberapa tradisi ini menjadi sebuah daya tarik budaya di Indonesia yang hanya bisa dijumpai kala Ramadhan datang.

Tradisi membangunkan sahur di Indonesia sangat beragam. Satu daerah dengan daerah yang lain punya tradisi yang tergambar dari cara yang berbeda-beda. Karena keunikannya itulah, tampaknya, tradisi ini layak untuk diulas dan diketahui banyak orang, agar kita semakin menyadari betapa besar dan kaya kebudayaan Indonesia. Simak selengkapnya dalam ulasan kali ini.

1. Ngarak Bedug (Jakarta)

bedug sahur
m.tempo.co

Ngarak bedug berarti berkeliling membawa bedug, tradisi ini dilakukan masyarakt ibu kota menjelang waktu sahur tiba. Tradisi ini sudah ada sejak ratuhan tahun lalu. Tradisi ini juga dipengaruhi dengan budaya cina yang memperkenalkan penggunaan petasan saat membangunkan sahur.

Perkembangan zaman mempengaruhi juga penggunaan peralatan, untuk menjalankan tradisi ini. Kini masyarakat tidak lagi menggunakan petasan mereka berpindah menggunakan kentrung, rebana, genjring dan bedug. Setiap kelompok biasanya terdiri dari 10 orang, setiap orang membawa peralatan musiknya sendiri. Hasilnya sebuah orkestrasi dengan irama unik yang cukup untuk mengugah orang agar bangun dan makan sahur sebelum imsyak.

2. Bagarakan Sahur (Kalimantan Selatan)

Bagarakan Sahur
hasanzainuddin.wordpress.com

Tidak ada sumber jelas yang dari mana asal mula tradisi ini, tapi tradisi membangunkan sahur hampir ada di setiap penjuru . Di Kalimantan Selatan tradisi ini biasa dijalankan oleh para pemuda sekitar dengan berkeliling membawa alat seperti babun, seruling, dan alat musik tradisional lainnya. Terkadang saat bagarakan sahur, ada juga ditemukan pemuda yang menggunakan gerobak sambil memainkan alat yang dibawanya.

3. Percalan (Salatiga)

Percalan
pds.exblog.jp

Tradisi sahur seperti apa, percalan itu? Sebenarnya sama halnya seperti tradisi ngarak bedug, tradisi ini juga berkeliling, kampung atau desa perbedaanya yakni pada peralatan yang dibawa. Grup tabuhan sahur percalan ini tampak lebih sering membawa barang bekas seadanya, macam-macam bisa dijadikan tetabuhan, mulai dari ember dan potongan besi bekas sampai kaleng biskuit.

4. Dengo – Dengo (Sulawesi Tengah)

Dengo - Dengo
ahmadanda.blogspot.co.id

Beberapa sumber sejarah menyebutkan, tradisi ini telah ada, bahkan sejak awal abad 17. Tepatnya di Bungku, Sulawesi Tengah. Tadinya ini adalah salah satu media untuk menyebarkan Agama Islam bagi warga lokal.
Tidak seperti daerah lain yang cenderung berkeliling seperti arak-arakan. Dengo – dengo ini sendiri sebenarnya adalah bangunan tinggi, berkisar 15 meter lebih dan digunakan warga untuk membangunkan sahur. Bangunan ini memang sengaja dibangun agar bunyi tabuhan sahur didengar oleh warga. Selain sebagai penanda sahur, dengo-dengo juga tampak digunakan warga kala bersantai di sore hari menunggu waktu berbuka.

5. Ketik (Surabaya dan Sidoarjo)

Ketik (Surabaya dan Sidoarjo)
bawean.net

Sama seperti ngarak bedug di Jakarta. Masyarakat Surabaya serta kabupaten yang berlokasi di sebelah selatannya yaitu Sidoarjo juga menggenalkan tradisi membangunkan sahur. Namanya singkat padat, Ketik. Tradisi ini mirip dengan percalan di Salatiga. Tidak ada alat musik yang baku, hanya barang-barang seadanya. Satu yang khas adalah bunyi dentingan dari botol kaca bekas sirup atau kecap saat ditabuh dengan paku atau batangan kayu. Dan darisinilah asal kata ketik berasal. Ketik, adalah budaya spontan, tak ada koordinasi, tak ada pemimpin atau pengarah suara. Hanya kemauan anak-anak warga lokal yang hendak membangunkan orang untuk sahur.

Tradisi ini secara umum di banyak daerah memang punya nama yang berbeda-beda. Tapi dalam bahasa Indonesia sendiri biasa dikenal dengan istilah Patrol. Istilah patrol ini, diperkirakan muncul dari bahasa sunda yang merujuk pada kegiatan menabuh benda-benda dengan maksud dan tujuan untuk membangunkan orang saat sahur. Apapun itu, keindahan khazanah tradisi Indonesia memang seolah tak akan pernah ada habisnya untuk terus dikenali.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *